031-99043013 | 085607001721 | BBM : DABD3258 info@intanaya.com

Segala puji hanya milik Alloh. Sholawat serta salam semoga tercurah selalu kepada Rosululloh.

Saudaraku sekalian yang dirohmati Alloh

Kelebihan mendasar yang diberikan Alloh kepada manusia adalah kecerdasannya (QS. Al-Baqarah :31). Atas hal tersebut Alloh memilih manusia sebagai kholifah (pemimpin) di bumi (QS. Al-Baqarah : 30). Dengan kecerdasan tersebut, manusia mampu membedakan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang pantas, dan mana yang tidak. Namun kadang dari kelebihan tersebut, muncul masalah ketika manusia merasa dirinya yang paling benar, orang lain salah.

Karena kebenaran adalah sesuatu yang melandasi tindak dan perbuatan manusia, maka dari sanalah seringkali muncul perselisihan, pertengkaran, bahkan pertumpahan darah.Nah, untuk membatasi perbedaan persepsi memaknai kebenaran dan kebaikan tersebut, yang paling bijak adalah mengembalikan pemaknaan kebenaran dan kebaikan kepada yang mahabenar, Alloh SWT. Karena hanya Dia yang kebenaranNya absolut, sedangkan kebenaran hasil olah pikir manusia selalu bersifat relatif, kebenaran menurut kita belum tentu adalah kebenaran bagi orang lain.

Alloh SWT. Telahmemberikan definisi tentang kebaikan, agar kita tidak lagi berspekulasi tentangnya. Al-Qur-an surat Al-Baqarah : 177, Alloh menjabarkan dengan sangat detail, sbb :

‘Bukanlah menghadapkan wajahmu kearahtimur dan barat itus ebuahkebaikan, tapi kebaikan sesungguhnya adalah beriman kepada Alloh, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi. Memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan hamba sahaya. Mendirikan sholat, membayar zakat, dan orang-orang yang memenuhi janji. Juga orang-orang yang sabar dalamkesulitan, penderitaan, dan saat tertimpa musibah. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan merekalah orang-orang yang bertaqwa’.

Beberapa hal yang bisa dicatat dari ayat di atas adalah :

Kebaikan bukan sesuatu yang berkiblat kepada peradaban timur atau barat. Diakui atau tidak, ukuran kebaikan sekarang adalah sesuai atau tidak dengan budaya barat atau timur. Sesuatu yang dipandang pantas di barat, belum tentu pantas menurut budaya timur, begitu pula sebaliknya. Jika demikian, berarti kebaikan menurut budaya barat-timur masih juga bersifat relative.

Makna kebaikan yang sebenarnya menurut ayat ini adalah,

  1. Beriman kepada Alloh, hari akhir, malaikat, kitab, dan para nabi
  • Beriman kepada Alloh, tidak hanya hafalan seperti yang dilakukan anak-anak sekolah dasar, bahkan anak playgroup atau anak TK tapi benar-benar pengakuan dari lubuk hati, pernyataan dengan ucapan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Selalu ta’at kepada Alloh tidak mendurhakaiNya. Selalu ingat kepada Alloh, tidak melupakanNya. Selalu tau diri dan bersyukur tidak mengkufuriNya (atsarIbnu Abbas tentangartitaqwa)
  • Beriman kepada hari akhir, selain meyakini kedatangannya, juga menyadari, bahwa hari tersebut adalah hari pertanggung jawaban semua yang telah diperbuat. Hal tersebut semestinya memberikan efek hati-hati dalam setiap tutur dan perbuatan.
  • Beriman kepada malaikat Alloh, bukan sekedar menghafal nama malaikat beserta tugasnya, namun karakter malaikat yang selalu patuh dan taat kepada Alloh menjadi inspirasi hidupnya.
  • Beriman kepada kitab (Al-Quran), tidak sekedar membacanya, tapi menjadikannya sebagai pedoman dalam tiap sikap dan perilaku
  • Beriman kepada Nabi (Muhammad), adalah menginspirasi diri dengan selalu menteladani akhlaq beliau, dan melestarikan ajaran-ajarannya.
  1. Sikap peduli, sebagai wujud unsur pertama kebaikan, yaitu ke-iman-an. Kepedulian adalah bukti dari prinsiphidup. Orang yang lebih peduli adalah orang yang mampu melihat kebaikan lebih dari yang terlihat. Dia menuju profil manusia terbaik, yaitu manusia yang paling banyak memberi kemanfaatan bagi orang lain (al-hadits)
  2. Taat beribadah dan menepati janji. Dipasangkannya ibadah dengan menepati janji, karena sering kali terjadi paradoks, dimana seseorang terlihat begitu taat beribadah, namun janjinya tidak bisa dipegang, perilakunya jauh dari seharusnya seorang yang rajin beribadah. Menepati janji adalah salah satu bukti yang meyakinkan yang menunjukkan kepada siapapun, bahwa ibadah yang dialakukan telah menjadi sikap dan perilaku.
  3. Bersabar bukanlah berdiam diri, berpangku tangan, apalagi menjadi beban. Berabar untuk selalu menjadi orang baik. Bersabar untuk tetap menjauhi segala perbuatan ma’shiat. Bersabar untuk selalu menjalankan perintah. Bersabar saat mushibah datang menghadang.

Ketika dalam diri seseoranga dake-empat unsur di atas, keimanan, kepedulian, konsistensi mengabdi/beribadah, dan bersabar, maka di situlah kita benar-benar menemukan kebaikan

Ternyata menurut definisi Alloh, kebaikan itu bukan seberapa tinggi jabatan, seberapa banyak harta, atau seberapa gagah dan cantik seseorang, melainkan beberapa unsur yang lebih mendasar yang ada dalam diri seseorang.

Berikutnya,setelah ke-empat unsur diatas, bagaimanakah kita melihat seseorang telah benar-benar menjadi baik atau belum, maka Rosululloh memberikan arahan sebagai berikut :

‘Jika Alloh menghendaki seseorang menjadi baik,maka Alloh akan memahamkan agama kepada dirinya, memberi sifat menghargai orang lain, memiliki cinta tulus karena Alloh dan di jalanNya, memberinya pola hidup nan bersahaja dan sederhana, serta menampakkan kekurangannya untuk bisa diperbaiki.

Namun jika Alloh berkehendak tidak baik kepada seseorang, makaAlloh tidak lagi menghiraukannya’.(HR. Ahmad dan Turmudzi)

Jadi,menurut Rosululloh, orang yang baik adalah orang yang agama hidup dalam dirinya. Berupa keinginan selalu menambah ilmu agama, memahaminya, menjalankannya, bahkan dia memang menjadikan agama sebagai ‘way of life’, jalan hidup baginya.

Dia juga adalah orang yang sangat pandai menghargai orang lain, seberapa kecil sekalipun peran atau kontribusi orang lain. Dalam pandangannya, bukan tentang besar atau kecil, bukan tentang banyak atau sedikit, tapi bahwa semua dilakukan karena Alloh dan di jalan Alloh. Jika demikian, maka yang ada dalam hati dan pikirannya semata pahala, ampunan dan ridlo Alloh SWT. Bukan ambisi duniawi, bukan hasrat nafsu birahi, bukan pula kemegahan serta kemewahan diri.

Orang tersebut juga adalah orang yang dalam setiap pandangan, pendengaran, tiap tutur kata dan perbuatannya, menyiratkan cinta dan ketulusan. Dia melakukan segala sesuatu karena dorongan ingin membantu sesama. Dia selalu termotivasi menebarkan kebaikan dan kasih sayang karena semata ingin meraih perhatian dan cinta kasih Alloh. Dalam hatinya sudah tidak mengenal kata benci. Yang tersisa adalah kelembutan dan kasih sayang. Keinginan selalu berbuat baik untuk orang lain.

Dalam pandangannya, kemegahan dan kemewahan bukanlah harta, jabatan, dan segala yang bersifat lahiriyah, namunkekayaan adalah kebaikan hati, ketulusansikap, kelembutan tutur, dan kemanfaatan diri bagi sesama.

Dan puncaknya,selalu melakukan transformasi diri dan perubahan menjadi lebih baik.Saat ditampakkan kekurangan dan keterbatasannya, bukan minder atau malu, tapi semangat untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Perpaduan lima unsur ini, membuat seseorang, dimanapun dia berada dan bersama siapapun, akan melengkapi dan membawa kebaikan bahkan peningkatan.

Semoga, saudaraku, pembaca artikel ini, mampu mewujud arti kebaikan yang sebenarnya dan mewujudkannya dalam diri…..aamiiiin.

Facebook

Twitter