<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>HM. Arifulloh, Pengarang di Intanaya Haji Umroh Surabaya</title>
	<atom:link href="https://intanaya.com/author/arifulloh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Umroh Surabaya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Jul 2023 02:34:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>Memahami Wisata Religi</title>
		<link>https://intanaya.com/memahami-wisata-religi/</link>
					<comments>https://intanaya.com/memahami-wisata-religi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[HM. Arifulloh]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2015 09:18:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://intanaya.com/?p=1547</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan, wisata religi menjadi tren baru yang digandrungi banyak orang. Entah siapa yamg membuat dan mempopulerkan istilah itu, yang jelas secara tiba-tiba istilah “wisata religi” menjadi semacam kesepakatan yang tak terkatakan (ijmak sukûtiy), yang diakui berbagai kalangan, mulai dari para penyedia armada wisata, pengelola kawasan ziarah wali, tokoh-tokoh masyarakat, dan masyarakat umum, baik pedesaan maupun perkotaan. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/memahami-wisata-religi/">Memahami Wisata Religi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan, wisata religi menjadi tren baru yang digandrungi banyak orang. Entah siapa yamg membuat dan mempopulerkan istilah itu, yang jelas secara tiba-tiba istilah “wisata religi” menjadi semacam kesepakatan yang tak terkatakan (ijmak sukûtiy), yang diakui berbagai kalangan, mulai dari para penyedia armada wisata, pengelola kawasan ziarah wali, tokoh-tokoh masyarakat, dan masyarakat umum, baik pedesaan maupun perkotaan.</p>
<p>Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan wisata religi itu? Dari penamaan ini, tampak jelas bagi kita bahwa wisata ini dimaksudkan untuk memperkaya wawasan keagamaan dan memperdalam rasa spiritual kita. Karena bagaimanapun, ini adalah perjalanan keagamaan yang ditujukan untuk memenuhi dahaga spiritual, agar jiwa yang kering kembali basah oleh hikmah-hikmah religi. Jadi ini bukan wisata biasa yang hanya dimaksudkan untuk bersenang-senang, menghilangkan kepenatan pikiran, semacam dengan pergi ke tempat hiburan.</p>
<p>Dengan demikian, maka semestinya tujuan wisata religi tidaklah sempit, namun memiliki cakupan yang sangat luas, dan sifatnya cukup personal. Artinya tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata religi tidak terbatas pada makam-makam para wali saja, namun mencakup setiap tempat yang bisa menggairahkan cita rasa religiusitas kita, atau bisa menyegarkan dahaga spiritual kita, baik itu pemakaman para wali, museum-museum kesejarahan Islam, tempat-tempat bersejarah, atau tempat apapun yang bisa menyampaikan kita pada tujuan yang dikehendaki dalam wisata religi itu. Tergantung kecendrungan kejiwaan masing-masing orang.</p>
<p>Namun sebagaimana diketahui secara umum, bahwa pada tataran praktis, masyarakat memahami dan menjalani wisata religi ini hanya dengan cara berziarah dan mengunjungi makam-makam para wali saja, baik wali songo maupun yang lain. Tentu saja ini telalu sempit untuk menjelaskan wisata religi dalam tataran praktis.</p>
<p>Lalu apakah wisata religi dengan mengunjungi makam para wali ini tidak tepat sasaran? Tentu saja tidak demikian. Namun pertanyaannya adalah, apakah ziarah wali yang dilakukan selama ini sudah memenuhi maksud dan tujuan yang semestinya wisata religi itu?</p>
<p>Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi disebutkan, bahwa Nabi bersabda yang artinya,”Aku telah melarang kalian untuk ziarah kubur. Namun sekarang, lakukanlah ziarah kubur itu. Karena hal itu bisa mengingatkan kalian pada akhirat.” Dalam Mu’jam al-Kabir karya Imam ath-Thabrani dicantumkan Hadis yang artinya, “aku telah melarang kalian untuk ziarah kubur. Namun sekarang, lakukanlah ziarah kubur itu. Karena dalam ziarah kubur itu terdapat ibrah.”</p>
<p>Jadi, apakah selama ini tampak jelas bagi kita bahwa tujuan ziarah kubur ini telah tercapai dalam wisata religi yang kita jalani, sesuai dengan tujuan yang direkomendasikan dalam Hadis di atas? Adakah para peserta wisata religi mengingat akhirat pada saat berkunjung ke ziarah wali, dan mengalami peningkatan spiritual setelah ziarah itu? Dan seberapa banyak ibrah atau pelajaran yang diambil dari mengunjungi makam para wali itu?</p>
<p>Sepintas, tanpa melihat masing-masing person peserta wisata religi, dari tampilan luar kita melihat tujuan ini masih belum tercapai. Tampaknya wisata ke makam para wali masih sebatas dijalani sebagai perjalanan biasa, untuk sekedar ingin tahu, atau untuk memenuhi hajat duniawi, ngalap barakah dengan meletakkan botol air mineral di sekeliling makam, dan semacamnya, dan sepertinya belum ada ibrah apapun yang didapat dari kunjungan wisata religi ini, yang bisa membuat lebih dekat kepada Allah, ingat mati, takut akan siksa kubur dan siksa neraka.</p>
<p>Buktinya, rata-rata keadaan peserta wisata religi tak mengalami perubahan apapun dari sebelum menjalanin perjalanan spiritual ini. Bahkan banyak yang ketika berada di sekitar makam para wali tidak mengaji dan tidak membaca doa apapun, namun hanya berkeliling di lokasi itu, berpose ria kesana kemari, berbelanja ini dan itu, hanya makan-makan, hanya cengar-cengir dan cengengesan, menikmati keunikan budaya lokal, dan semacamnya.</p>
<p>Bahkan, kini rata-rata lokasi makam para wali lebih mengesankan lokasi pasar ketimbang lokasi pemakaman, sehingga suasana ini jelas sangat berpengaruh terhadap suasana kejiwaan dan rasa yang ditangkap oleh para pengunjung. Padahal dalam wisata religi, mestinya suasana kejiwaan dan kesan spiritual sangat penting. Maka dari itu wajar jika di sini mereka tak menangkap suasana sakral sama sekali. Lalu bagaimana bisa para pengunjung akan mengingat akhirat, berpikir tentang kematian, dan mengambil pelajaran dari orang yang sudah meninggal?</p>
<p>Dari sini bisa disimpulkan, bahwa betapapun tren wisata religi yang tengah berkembang dewasa ini adalah baik, namun bukan berarti ini telah benar-benar sejalan dengan semestinya. Karena itu, tradisi ini masih harus menjalani proses yang cukup panjang, dan memerlukan perbaikan-perbaikan dan koreksi, agar bisa sesuai dengan tujuan wisata religi yang sebenarnya. Untuk itu, berbagai elemen masyarakat yang terlibat perlu melakukan pembenahan-pembenahan, baik pihak yang menangani tempat tujuan wisata religi maupun pihak yang mengunjunginya.</p>
<p>Di sini penulis mengajukan sedikit usulan, bahwa alangkah sebaiknya jika dalam wisata religi ini pembimbing atau ketua rombongan tidak hanya mengantar peserta rombongan ke lokasi makam, dan bahkan tidak hanya sekedar memimpin bacaan tahlil, akan tetapi ketua rombongan berperan semacam pembimbing jamaah haji.</p>
<p>Jadi di sini, sebelumnya ketua rombongan juga perlu menerangkan apa tujuan sebenarnya ke makam para wali ini, kenapa kita perlu ziarah, dan seterusnya. Saat di lokasi makam wali, ia juga perlu menerangkan sekilas tentang perjuangan dakwah wali bersangkutan, sejarahnya, rintangan-rintangan yang dihadapinya, dan seterusnya. Setelah itu, ia juga perlu menerangkan kepada rombongan mengenai hikmah apa yang bisa dipetik dari perjalanan ziarah wali ini, serta apa saja yang perlu dilakukan oleh peserta ziarah setelah melakukan perjalanan ini.</p>
<p>Dengan demikian, tentu akan ada sesuatu yang berbeda yang bisa ditangkap dan dirasakan oleh para peserta ziarah wali atau wisata religi ini, baik pada saat mereka berangkat, ketika berada di lokasi, maupun setelah usai dari perjalanan ini. Karena perjalanan religi hanya bisa berarti jika si pelaku sudah memahami arti yang dikehendaki.</p>
<p>*) Sumber tulisan : Buletin Sidogiri,<br />
Edisi-82, hal.14-16, Rajab, 1434</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/memahami-wisata-religi/">Memahami Wisata Religi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://intanaya.com/memahami-wisata-religi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pilar-Pilar Ubudiyah yang Benar</title>
		<link>https://intanaya.com/pilar-pilar-ubudiyah-yang-benar/</link>
					<comments>https://intanaya.com/pilar-pilar-ubudiyah-yang-benar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[HM. Arifulloh]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2015 08:11:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://intanaya.com/?p=1504</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harapan). Rasa cinta (hubb) harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan khauf (takut) harus dibarengi dengan raja’ (harapan).Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini.Allah  berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin, “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54). [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/pilar-pilar-ubudiyah-yang-benar/">Pilar-Pilar Ubudiyah yang Benar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harapan).<br />
Rasa cinta (hubb) harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan khauf (takut) harus dibarengi dengan raja’ (harapan).Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini.Allah  berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin, “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54).<br />
Dan juga firman-Nya, “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)<br />
Dalam perkara ini, Allah  juga berfirman menyifati para Rasul dan Nabi-Nya, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”(QS. Al-Anbiya: 90)</p>
<p>Sebagian salaf berkata, “Siapa yang menyembah Allah  dengan rasa hubb (cinta) saja maka dia zindiq (istilah untuk setiap munafik, orang yang sesat dan mulhid). Siapa yang menyembah-Nya dengan raja’ (harapan) semata maka ia adalah murji’ (orang Murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan dari iman. Iman hanya dengan hati saja). Dan siapa yang menyembah-Nya hanya dengan khauf (takut) saja, maka dia adalah harury (orang dari golongan Khawarij, yang pertama kali muncul di Harurro’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa adalah kafir). Siapa yang menyembah-Nya dengan hubb, khauf dan raja’ maka dia adalah mukmin muwahhid”.</p>
<p>Hal ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Risalah Ubudiyah.Beliau juga berkata, “Dien Allah adalah menyembah-Nya, taat dan tunduk kepada-Nya. Asal makna ibadah adalah adz-dzull (hina). Dikatakan “طريق معبّد” jika jalan itu dihinakan dan diinjak-injak oleh kaki manusia.Akan tetapi ibadah yang diperintahkan mengandung makna dzull (hina/merendahkan diri) dan hubb (cinta). Yakni mengandung makna dzull yang paling dalam dengan hubb yang paling tinggi kepada Allah . Siapa yang tunduk kepada seseorang dengan perasaan benci kepadanya, maka ia bukanlah menghamba (menyembah) kepadanya. Dan jika ia menyukai sesuatu tetapi tidak tunduk kepadanya, maka iapun tidak menghamba (menyembah) kepadanya. Sebagaimana seorang ayah mencintai anak atau rekannya. Karena itu tidak cukup salah satu dari keduanya dalam beribadah kepada Allah , tetapi hendaklah Allah  lebih dicintainya dari segala sesuatu dan Allah  lebih diagungkan dari segala sesuatu. Tidak ada yang berhak mendapat mahabbah (cinta) dan khudu’ (ketundukan) yang sempurna selain Allah .”(Majmu’ah Tauhid Najdiyah, 542).</p>
<p>Inilah pilar-pilar kehambaan yang merupakan poros segala amal ibadah. Ibnu Qayyim rahimullah berkata dalam “Nuniyyah-nya”, “Ibadah kepada Ar-Rahman adalah cinta yang dalam kepada-Nya, beserta kepatuhan menyembah-Nya.Dua hal ini adalah ibarat dua kutub. Di atas keduanyalah orbit ibadah beredar. Ia tidak beredar sampai kedua kutub itu berdiri tegak. Sumbunya adalah perintah (perintah Rasul-Nya).Bukan hawa nafsu dan setan.”</p>
<p>Ibnu Qayyim rahimullah menyerupakan beredarnya ibadah di atas rasa cinta dan tunduk bagi yang dicintai, yaitu Allah  dengan beredarnya orbit di atas dua kutubnya. Beliau juga menyebutkan bahwa beredarnya orbit ibadah adalah berdasarkan perintah rasul dan syari’atnya, bukan berdasarkan hawa nafsu dan setan. Karena hal yang demikian bukanlah ibadah. Apa yang disyari’atkan baginda Rasul  itulah yang memutar orbit ibadah. Ibadah tidak diputar oleh bid’ah, nafsu dan khurafat.</p>
<p><strong>SYARAT DITERIMANYA IBADAH</strong></p>
<p>Pembaca yang budiman, untuk melengkapi pembahasan ini, kami ingatkan lagi dengan syarat diterimanya ibadah. Agar bisa diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar kecuali dengan ada syarat :</p>
<ol>
<li>Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil,</li>
<li>Sesuai dengan tuntunan Rasulullah .</li>
</ol>
<p>Syarat pertama adalah merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya untuk Allah  dan jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat yang kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggalkan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.</p>
<p>Allah  berfirman, “(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)</p>
<p>Dalam ayat diatas disebutkan “menyerahkan diri” (aslama wajhahu) artinya memurnikan ibadah kepada Allah . Dan “berbuat kebajikan” (wahuwa muhsin) artinya mengikuti Rasul-Nya .</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  rahimahullah mengatakan, “Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah , dan kita tidak menyembah kecuali dengan apa yang dia syari’atkan, tidak dengan bid’ah. Sebagaimana Allah  berfirman, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Yang demikian adalah manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah.</p>
<p>Pada yang pertama, kita tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua bahwasannya Muhammad  adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya.Beliau  telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah , dan beliau melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau mengatakan bahwa bid’ah itu sesat” (Al-Ubudiyah, hal 103; ada dalam Majmu’ah Tauhid, hal. 645)</p>
<p>Rujukan : Kitab Tauhid lish-Shafil Awwal karya Dr. Shalih Al-Fauzan</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/pilar-pilar-ubudiyah-yang-benar/">Pilar-Pilar Ubudiyah yang Benar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://intanaya.com/pilar-pilar-ubudiyah-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah</title>
		<link>https://intanaya.com/paham-paham-yang-salah-tentang-pembatasan-ibadah/</link>
					<comments>https://intanaya.com/paham-paham-yang-salah-tentang-pembatasan-ibadah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[HM. Arifulloh]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2015 08:00:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://intanaya.com/?p=1501</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ibadah adalah perkara tauqifiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak), sebagaimana sabda Nabi  : مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak.” (HR. Bukhari no. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/paham-paham-yang-salah-tentang-pembatasan-ibadah/">Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ibadah adalah perkara tauqifiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak), sebagaimana sabda Nabi  :</p>
<p>مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ<br />
“Barang siapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak.” (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)</p>
<p>Maksudnya, amalnya ditolak dan tidak diterima, bahkan ia berdosa karenanya. Sebab amal tersebut adalah maksiat, bukan taat.</p>
<p>Kemudian manhaj (jalan) yang benar dalam melaksanakan ibadah yang disyari’atkan adalah sikap pertengahan. Tidak meremehkan dan malas, serta tidak dengan sikap ekstrim dan melampaui batas.</p>
<p>Allah  berfirman kepada Nabi-Nya , “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS. Hud: 112)<br />
Ayat Al-Qur’an ini adalah garis petunjuk bagi langkah manhaj yang benar dalam pelaksanaan ibadah.Yaitu dengan ber-istiqomah dalam melaksanakan ibadah pada jalan tengah, tidak kurang atau lebih, sesuai dengan petunjuk syari’at (sebagaimana yang diperintahkan).</p>
<p>Kemudian pada akhir ayat, Allah  menegaskan lagi dengan firman-Nya, “Dan janganlah kamu melampaui batas.”</p>
<p>Tughyan adalah melampaui batas dengan bersikap terlalu keras dan memaksakan kehendak serta megada-ada.Ia lebih dikenal dengan ghuluw. Ketika Rasulullah  mengetahui bahwa tiga orang dari sahabatnya melakukan ghuluw  dalam ibadah, dimana seorang dari mereka berkata, “Saya akan terus berpuasa dan tidak  berbuka”, yang kedua berkata, “Saya akan shalat terus dan tidak tidur”, lalu yang ketiga berkata, “Saya tidak akan menikahi wanita”, maka beliau  bersabda, “Adapun saya, maka saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan saya tidur, dan saya menikahi perempuan. Maka barang siapa tidak menyukai jejakku maka dia bukan dari (bagian atau golongan)-ku.” (HR. Bukhari no. 4675 dan Muslim no. 2487)</p>
<p>Ada 2 golongan yang saling bertentangan dalam soal ibadah :</p>
<ol>
<li>Golongan pertama: Yang mengurangi makna ibadah serta meremehkan pelaksanaannya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang terbatas pada syi’ar-syi’ar tertentu dan sedikit, yang hanya diadakan  di masjid-masjid saja. Menurut mereka tidak ada ibadah di rumah, di kantor, di toko, di bidang sosial, juga tidak dalam peradilan kasus sengketa dan dalam perkara-perkara kehidupan lainnya.<br />
Memang masjid mempunyai keistimewaan dan harus dipergunakan dalam shalat fardhu lima waktu. Akan tetapi ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan muslim, baik di masjid maupun di luar masjid.</li>
<li>Golongan kedua: Yang bersikap berlebih-lebihan dalam praktek ibadah sampai pada batas ekstrim, yang sunnah sampai mereka angkat menjadi wajib, sebagaimana yang mubah (boleh) mereka angkat menjadi haram. Mereka menghukumi sesat dan salah orang yang menyalahi jalan (manhaj) mereka, serta menyalahkan pemahaman-pemahaman lainnya.</li>
</ol>
<p>Padahal sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad  dan seburuk-buruk perkara adalah yang bid’ah.</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/paham-paham-yang-salah-tentang-pembatasan-ibadah/">Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://intanaya.com/paham-paham-yang-salah-tentang-pembatasan-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Makna Ibadah</title>
		<link>https://intanaya.com/makna-ibadah/</link>
					<comments>https://intanaya.com/makna-ibadah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[HM. Arifulloh]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2015 07:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://intanaya.com/?p=1495</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk.Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi ibadah itu antara lain : Ibadah ialah taat kepada Allah  dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya (yang digariskan) melalui lisan para Rasul-Nya, Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah , yaitu tingkatan ketundukan yang paling tinggi disertai dengan rasa [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/makna-ibadah/">Makna Ibadah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk.Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi ibadah itu antara lain :</p>
<ol>
<li>Ibadah ialah taat kepada Allah  dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya (yang digariskan) melalui lisan para Rasul-Nya,</li>
<li>Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah , yaitu tingkatan ketundukan yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi,</li>
<li>Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzahir maupun bathin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.</li>
</ol>
<p>Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.</p>
<p>Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia, Allah  berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki yang mempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)</p>
<p>Allah  memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah . Dan Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya. Karena ketergantungan mereka kepada Allah , maka mereka menyembah-Nya sesuai dengan aturan syari’at-Nya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah , ia adalah sombong. Siapa yang menyembah-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan siapa yang hanya menyembah-Nya dan dengan syari’at-Nya, maka dia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah ).</p>
<p><strong>MACAM-MACAM IBADAH DAN KELUASAN CAKUPANNYA</strong></p>
<p>Ibadah itu banyak macamnya.Ia mencakup semua ketaatan yang nampak pada lisan, anggota badan dan yang lahir dari hati. Seperti dzikir, tasbih, tahlil, dan membaca Al-Qur’an; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma’ruf nahi munkar, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Begitu pula cinta kepada Allah  dan Rasul-Nya, khassyatullah (takut kepada Allah), inabah (kembali) kepada-Nya, ikhlas kepada-Nya, sabar terhadap hukum-Nya, ridha dengan qadha’-Nya, tawakkal, mengharap nikmat-Nya dan takut dari siksa-Nya.</p>
<p>Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika perbuatan itu diniatkan sebagai qurbah (pendekatan diri kepada Allah ) atau apa-apa yang membantu qurbah itu. Bahkan adat kebiasaan yang dibolehkan secara syari’at (mubah) dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepada-Nya. Seperti tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas pada syi’ar-syi’ar yang biasa dikenal semata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/makna-ibadah/">Makna Ibadah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://intanaya.com/makna-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Kebaikan</title>
		<link>https://intanaya.com/memaknai-kebaikan/</link>
					<comments>https://intanaya.com/memaknai-kebaikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[HM. Arifulloh]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2015 05:38:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://intanaya.com/?p=1484</guid>

					<description><![CDATA[<p>Segala puji hanya milik Alloh. Sholawat serta salam semoga tercurah selalu kepada Rosululloh. Saudaraku sekalian yang dirohmati Alloh Kelebihan mendasar yang diberikan Alloh kepada manusia adalah kecerdasannya (QS. Al-Baqarah :31). Atas hal tersebut Alloh memilih manusia sebagai kholifah (pemimpin) di bumi (QS. Al-Baqarah : 30). Dengan kecerdasan tersebut, manusia mampu membedakan mana yang baik, mana [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/memaknai-kebaikan/">Memaknai Kebaikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanya milik Alloh. Sholawat serta salam semoga tercurah selalu kepada Rosululloh.</p>
<p>Saudaraku sekalian yang dirohmati Alloh</p>
<p>Kelebihan mendasar yang diberikan Alloh kepada manusia adalah kecerdasannya (QS. Al-Baqarah :31). Atas hal tersebut Alloh memilih manusia sebagai kholifah (pemimpin) di bumi (QS. Al-Baqarah : 30). Dengan kecerdasan tersebut, manusia mampu membedakan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang pantas, dan mana yang tidak. Namun kadang dari kelebihan tersebut, muncul masalah ketika manusia merasa dirinya yang paling benar, orang lain salah.</p>
<p>Karena kebenaran adalah sesuatu yang melandasi tindak dan perbuatan manusia, maka dari sanalah seringkali muncul perselisihan, pertengkaran, bahkan pertumpahan darah.Nah, untuk membatasi perbedaan persepsi memaknai kebenaran dan kebaikan tersebut, yang paling bijak adalah mengembalikan pemaknaan kebenaran dan kebaikan kepada yang mahabenar, Alloh SWT. Karena hanya Dia yang kebenaranNya absolut, sedangkan kebenaran hasil olah pikir manusia selalu bersifat relatif, kebenaran menurut kita belum tentu adalah kebenaran bagi orang lain.</p>
<p>Alloh SWT. Telahmemberikan definisi tentang kebaikan, agar kita tidak lagi berspekulasi tentangnya. Al-Qur-an surat Al-Baqarah : 177, Alloh menjabarkan dengan sangat detail, sbb :</p>
<p>‘Bukanlah menghadapkan wajahmu kearahtimur dan barat itus ebuahkebaikan, tapi kebaikan sesungguhnya adalah beriman kepada Alloh, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi. Memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan hamba sahaya. Mendirikan sholat, membayar zakat, dan orang-orang yang memenuhi janji. Juga orang-orang yang sabar dalamkesulitan, penderitaan, dan saat tertimpa musibah. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan merekalah orang-orang yang bertaqwa’.</p>
<p>Beberapa hal yang bisa dicatat dari ayat di atas adalah :</p>
<p>Kebaikan bukan sesuatu yang berkiblat kepada peradaban timur atau barat. Diakui atau tidak, ukuran kebaikan sekarang adalah sesuai atau tidak dengan budaya barat atau timur. Sesuatu yang dipandang pantas di barat, belum tentu pantas menurut budaya timur, begitu pula sebaliknya. Jika demikian, berarti kebaikan menurut budaya barat-timur masih juga bersifat relative.</p>
<p>Makna kebaikan yang sebenarnya menurut ayat ini adalah,</p>
<ol>
<li>Beriman kepada Alloh, hari akhir, malaikat, kitab, dan para nabi</li>
</ol>
<ul>
<li>Beriman kepada Alloh, tidak hanya hafalan seperti yang dilakukan anak-anak sekolah dasar, bahkan anak playgroup atau anak TK tapi benar-benar pengakuan dari lubuk hati, pernyataan dengan ucapan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Selalu ta’at kepada Alloh tidak mendurhakaiNya. Selalu ingat kepada Alloh, tidak melupakanNya. Selalu tau diri dan bersyukur tidak mengkufuriNya (atsarIbnu Abbas tentangartitaqwa)</li>
<li>Beriman kepada hari akhir, selain meyakini kedatangannya, juga menyadari, bahwa hari tersebut adalah hari pertanggung jawaban semua yang telah diperbuat. Hal tersebut semestinya memberikan efek hati-hati dalam setiap tutur dan perbuatan.</li>
<li>Beriman kepada malaikat Alloh, bukan sekedar menghafal nama malaikat beserta tugasnya, namun karakter malaikat yang selalu patuh dan taat kepada Alloh menjadi inspirasi hidupnya.</li>
<li>Beriman kepada kitab (Al-Quran), tidak sekedar membacanya, tapi menjadikannya sebagai pedoman dalam tiap sikap dan perilaku</li>
<li>Beriman kepada Nabi (Muhammad), adalah menginspirasi diri dengan selalu menteladani akhlaq beliau, dan melestarikan ajaran-ajarannya.</li>
</ul>
<ol start="2">
<li>Sikap peduli, sebagai wujud unsur pertama kebaikan, yaitu ke-iman-an. Kepedulian adalah bukti dari prinsiphidup. Orang yang lebih peduli adalah orang yang mampu melihat kebaikan lebih dari yang terlihat. Dia menuju profil manusia terbaik, yaitu manusia yang paling banyak memberi kemanfaatan bagi orang lain (al-hadits)</li>
<li>Taat beribadah dan menepati janji. Dipasangkannya ibadah dengan menepati janji, karena sering kali terjadi paradoks, dimana seseorang terlihat begitu taat beribadah, namun janjinya tidak bisa dipegang, perilakunya jauh dari seharusnya seorang yang rajin beribadah. Menepati janji adalah salah satu bukti yang meyakinkan yang menunjukkan kepada siapapun, bahwa ibadah yang dialakukan telah menjadi sikap dan perilaku.</li>
<li>Bersabar bukanlah berdiam diri, berpangku tangan, apalagi menjadi beban. Berabar untuk selalu menjadi orang baik. Bersabar untuk tetap menjauhi segala perbuatan ma’shiat. Bersabar untuk selalu menjalankan perintah. Bersabar saat mushibah datang menghadang.</li>
</ol>
<p>Ketika dalam diri seseoranga dake-empat unsur di atas, keimanan, kepedulian, konsistensi mengabdi/beribadah, dan bersabar, maka di situlah kita benar-benar menemukan kebaikan</p>
<p>Ternyata menurut definisi Alloh, kebaikan itu bukan seberapa tinggi jabatan, seberapa banyak harta, atau seberapa gagah dan cantik seseorang, melainkan beberapa unsur yang lebih mendasar yang ada dalam diri seseorang.</p>
<p>Berikutnya,setelah ke-empat unsur diatas, bagaimanakah kita melihat seseorang telah benar-benar menjadi baik atau belum, maka Rosululloh memberikan arahan sebagai berikut :</p>
<p>‘Jika Alloh menghendaki seseorang menjadi baik,maka Alloh akan memahamkan agama kepada dirinya, memberi sifat menghargai orang lain, memiliki cinta tulus karena Alloh dan di jalanNya, memberinya pola hidup nan bersahaja dan sederhana, serta menampakkan kekurangannya untuk bisa diperbaiki.</p>
<p>Namun jika Alloh berkehendak tidak baik kepada seseorang, makaAlloh tidak lagi menghiraukannya’.(HR. Ahmad dan Turmudzi)</p>
<p>Jadi,menurut Rosululloh, orang yang baik adalah orang yang agama hidup dalam dirinya. Berupa keinginan selalu menambah ilmu agama, memahaminya, menjalankannya, bahkan dia memang menjadikan agama sebagai ‘way of life’, jalan hidup baginya.</p>
<p>Dia juga adalah orang yang sangat pandai menghargai orang lain, seberapa kecil sekalipun peran atau kontribusi orang lain. Dalam pandangannya, bukan tentang besar atau kecil, bukan tentang banyak atau sedikit, tapi bahwa semua dilakukan karena Alloh dan di jalan Alloh. Jika demikian, maka yang ada dalam hati dan pikirannya semata pahala, ampunan dan ridlo Alloh SWT. Bukan ambisi duniawi, bukan hasrat nafsu birahi, bukan pula kemegahan serta kemewahan diri.</p>
<p>Orang tersebut juga adalah orang yang dalam setiap pandangan, pendengaran, tiap tutur kata dan perbuatannya, menyiratkan cinta dan ketulusan. Dia melakukan segala sesuatu karena dorongan ingin membantu sesama. Dia selalu termotivasi menebarkan kebaikan dan kasih sayang karena semata ingin meraih perhatian dan cinta kasih Alloh. Dalam hatinya sudah tidak mengenal kata benci. Yang tersisa adalah kelembutan dan kasih sayang. Keinginan selalu berbuat baik untuk orang lain.</p>
<p>Dalam pandangannya, kemegahan dan kemewahan bukanlah harta, jabatan, dan segala yang bersifat lahiriyah, namunkekayaan adalah kebaikan hati, ketulusansikap, kelembutan tutur, dan kemanfaatan diri bagi sesama.</p>
<p>Dan puncaknya,selalu melakukan transformasi diri dan perubahan menjadi lebih baik.Saat ditampakkan kekurangan dan keterbatasannya, bukan minder atau malu, tapi semangat untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p>Perpaduan lima unsur ini, membuat seseorang, dimanapun dia berada dan bersama siapapun, akan melengkapi dan membawa kebaikan bahkan peningkatan.</p>
<p>Semoga, saudaraku, pembaca artikel ini, mampu mewujud arti kebaikan yang sebenarnya dan mewujudkannya dalam diri…..aamiiiin.</p>
<p>Artikel <a href="https://intanaya.com/memaknai-kebaikan/">Memaknai Kebaikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://intanaya.com">Intanaya Haji Umroh Surabaya</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://intanaya.com/memaknai-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
